All images and stories are originally made by "ARTSY" tought. All images and stories are COPYRIGHTED

Tuesday, January 3, 2012

Masa Depan, bukan punya dia tapi punya saya

Hay
Its been forever since my last post, aye? ehm yeah, school forced me to stay on the track so have no time for any art thoughts. Sad, isnt it?
Sebenarnya, sekarang gue lagi fokus buat nerusin hobi gue di bidang fotografi dan digital imaging. You know, kalo lihat post-post gue yang dulu, i sometimes put a photography post di sela sela post tulisan.
Awalnya, gue gak begitu serius di bidang fotografi. Ada 3 alasan kenapa dulu "i-am-not-that-interested" sama fotografi:
1st. Gue merasa gue gak pinter cari angle
Yes i am. Padahal waktu itu belom pernah coba taking picture. Jarang banget yang namanya Regina Abigail pegang kamera. Itu semua karena ke-tidak-percaya dirian gue pada saat itu

2nd. Tangan gue bergetar kalau megang camera
Entah di jampe-jampe atau apapun itu, dulu tangan gue selalu shacking kalo pegang camera

3rd. Gue males ngulik photoshop
i was a photoshop dummy back then. Buat gue, using picnik.com sounds more simple than have to re-open a pict, naik naikin curves, dan sebagainya. Padahal hasilnya pasti lebih bagus dan pastinya lebih puas sama hasil foto kita sendiri


Emang cuma 3 alasan, tapi ternyata berbuntut panjang untuk kedepannya. Yeah well, karena alasan pertama dan kedua , gue jadi gak percaya diri waktu memutuskan untuk mempunya camera digital pertama gue (canon ixus 105 hs). Tujuan awal beli camera itu adalah buat keperluan fashion blog gue. So i dont have to borrow my cousin's camera anymore to take an outfit post. Tapi... gue merasa terikat banget sama camera itu. Gue bawa kemana-mana buat foto yang menurut gue ya.... penting-penting saja. Akhirnya, gue punya ikatan senyawa kimiawi sama camera itu. Bahkan punya perasaan gak enak ketika camera itu dibawa nyokap gue utnuk jalan-jalan ke Spanyol. Hasilnya? camera gue jatuh saat lensanya terbuka. My camera officially broken.
Walau akhirnya gue dapet penggantinya  ( Fujifilm finepix s1600, Canon powershot A3200 is, Sony ericson DSC-W530), tapi camera pertama gue adalah benda bersejarah (atleast bagi gue) karena udah membuat diri gue berani mencoba suatu hal yang awalnya enggan gue coba. Kalau gak karena laptop bokap yang cuma bisa buka adobe photoshop cs 2, mungkin gue gak akan pernah bisa ngulik foto di photoshop dan gak akan pernah ngerti gimana cara naikkin contarst, brightness, bikin black and white, tekhnik hdr, dan lainnya. Dan pastinya, kalo gak pernah coba mainin adobe photoshop, mungkin sekarang gue masih bingung what shud i do for my future.

Terkadang, hal-hal simpel bisa menjadi halangan buat kita. Kayak alasan pertama dan kedua gue. Sebenernya itu nonsense banget kan? tapi kalau di diemin begitu aja, gak ada pergerakkan dari kita sendiri, itu semua gak akan pernah sembuh dan seterusnya akan begitu terus.
Contoh lainnya juga bisa diambil dari alasan nomor 3 gue. Males emang satu kata yang cuma bisa ruin everything. Ngaku deh, ada saat kita pengen ngelakuin sesuatu tapi kehalang sama yang namanya males sama mager(males gerak)? Pasti pernah meskipun orang yang rajin sekalipun. Efeknya? pasti hal itu tertunda malah ada hal yang akhirnya malah gak terlaksana. Kita juga pengennya serba instan dan males buat mengulang semua dari awal. Padahal, hasil yang instan gak selamanya baik. Waktu gue masih photoshop dummy, gue selalu merasa ada yang kurang waktu ngedit foto. Gue selalu ngerasa ada yang kurang dari foto gue. Entah kurang rapih atau kurang detil. I am not saying that photoshop is the best ya cuma ini berdasarkan opini dan pengalaman gue saja.

Dari hal-hal simpel juga, kita bisa mengetahui apa passion kita. Kayak contoh diatas, akhirnya dari hal-hal simpel diatas gue malah tau kalau gue ternyata punya big passion di fotografi. Dari awalnya mengaggumi, gak percaya diri, malahan sekarang udah bisa bikin beberapa shoot dan banyak artwork.

Mungkin banyak diantara kita masih bingung sama apa passion kita dan apa yang bakal kita lakuin kedepannya. Sebenernya, nyari passion isnt that easy dan selalu bertahap. Makanya, coba lakuin banyak hal yang bertolak belakang sama apa yang lo suka. Keluar dari comfort zone lo sesekali karena siapa tau passion lo malah diluar comfort zone lo itu. Terus manfaatin kesempatan yang ada, jangan malu nanya-nanya sama yang lebih berpengalaman, dan juga jangan ragu buat mulai dari awal. Kenapa? karena kita selalu memulai sesuatu dari awal kan? bukan dari akhir atau pertengahan hehe.

Jangan juga terlalu memaksakan kehendak orang lain, karena nantinya lo sendiri yang bakal hidup dengan pilihan tersebut, bukan dia. Misalnya, ambil contoh, lo maksain kemauan masuk IPA cuma gara-gara orang tua lo pengen banget lo masuk IPA. Padahal, passion dan kemampuan lo itu lebih bisa di realisasiin kalau lo masuk Social class. Okay, kita semua pasti pengen banget bisa banggain orang tua kita but hey! akan lebih bisa membanggakan lagi kalau misalnya di saat nanti, kita sukses di bidang yang kita mau kan? sounds more cool kan?. Inget juga, gak selamanya satu jurusan lebih baik dari jurusan lain. Semua jurusan ada plus minusnya. Social class, science class, kelas bahasa; semuanya punya untung ruginya, jadi gak selalu Science lebih baik dari semua, Social juga semua lulusannya calon pemimpin, dan Kelas bahasa selalu jadi yang terbelakang. Semua jurusan gak ada yang salah. Well, itu semua cuma myth. So dont ever believe on it. Percaya diri saja sama pilihan lo, kalau lo ngerasa itu yang terbaik buat lo.

Sukses atau gak nya kita itu diukur dari kerja keras kita dan seberapa cinta kita sama pekerjaan yang kita lakuin. Hard work+passion= successful future. whos with me? raise your hand:)

Saturday, August 13, 2011

Saya bukanlah seseorang yang mudah jatuh kedalam suatu lubang kaldera yang panas

Namun juga bukan seorang pribadi yang bahagia. Asal tau saja.

Saya hanya mencoba bertahan, melawan keterbatasan dunia ini. Perasaan seorang remaja putri yang kini ingin mencari suatu kehidupan yg khayal dibanding yang nyata.
Sungguh sulit menahan emosi. Saya tau Saya itu labil. Maka itu saya benci mengapa harus mempunyai perasaan.

Tulisan ini ditulis pada tengah malam/pagi-pagi buta(entahlah) di saat hati ini dipenuhi gejolak, antara harapan dan keputusasaan


Aku padamu,sungguh amat Cinta....

Monday, June 27, 2011

Negeri Cadar Kelabu

Adalah puisi, bukan cerita
Adalah tulisan, bukan perkataan
Adalah ekspresi diri, bukan omong kosong

Negeri kelabu itu terdiam, menatap pisau belati
Wanita asing siap disengsarai
Namun bukan wanita namanya kalo tak kuat
Walau semua orang tau, hatinya sudah terlebih dahulu dipancung

Kaki yang sudah tak lagi sepenuhnya berfungsi itu
Menuju tiang para pendosa
Tak tau bagaimana tapi dia tetap saja berjalan
Entah karena perasaan bersalah
Atau tak kuat menanggapi takdir

Sendiri di negeri asing
Tanpa ada topangan lain disisi
Kecuali iman yang tetap menguatkan hati
Sungguh tragis, namun inilah jalan hidupnya, eh?

Ibu, kau kuat
Kau sendiri, dapat menanggung tanggungan seberat baja
Aku yang mudapun tak mungkin kuat
Ceritamu,telah menorehkan sejarah di kain  merah putih
Yang berkibar di bumi seribu pulau ini

Sejarah cerita tentang masa lampau
Dimana seorang pahlawan, pemberi makan bangsa
Hilang ditengah ketidak perdulian bangsa




*puisi ini didedikasikan untuk ibu Ruyati, sang pahlawan devisa

Monday, June 20, 2011

Skenario 5 Dunia Nirmala: Kembang Seroja

Skenario 5 Dunia Nirmala

Ini tentang masa depan

Nirmala sedang berjalan menuju pohon rindang disebelah timur laut desanya, ketika Aida, seorang gadis bertubuh jangkung mendatanginnya. Katanya "Hidupku hancur". Nirmala hanya melewatinya
Tak disangka, dia mengikutinya.
Lalu?
Seiring dengan nyanyian angin yang berdesir di telinga Nirmala, iringan langkah kaki kegusaran, ikut menjadi gendang yang tidak sesuai dengan nyanyian si angin. Si angin yang gusar lalu mempercepat ketukan lagunya menjadi stakato. Aida? tak mau kalah juga mempercepat tempo langkahnya. Nirmala bersikap tenang atau mencoba tenang, tetap melangkah pasti didepan menuju sebuah pohon rindang disebelah timur laut desanya

Sesampainya disana, Nirmala duduk dan memandang kearah hutan kelabu. Disampingnya, Aida menatap langit dan bersiap menyanyikan puisinya (atau puisi orang lain)

nada: D rendah
Lagu Sedih

Ketika sungai hutan kelabu
Menghampiri hati yang merona ini
Lalu mengubah warnanya menjadi kelabu
Sedih

Tapi apa yang harus saya lakukan???

Lelah ku berjalan
Jiwaku telah kusam di terpa asap kesusahan
Aku hanya tak kuat

Mungkin kata mereka
Memakan hati sapi adalah hal yang mudah
Bagiku itu sama saja menyakitkan
Aku tak suka melihat sesuatu menderita

Aku tak bisa hidup
Dengan menyakiti kamu
Walau kata orang
Saya ini bodoh

Menyimpan suatu rasa dalam hati
Dan ketika rasa itu tak terbalaskan
Adalah seperti ukiran belati di hati ini

Aku ini bodoh

Sama seperti apa yang mereka katakan
Aku layaknya kembang seroja
Indah dipandang dan gampang dipetik
Ketika layu, dibuang begitu saja
Ketika tak menarik, akan menjadi abu yang pergi begitu saja
Ditelan hiruk pikuk kisah cinta picisan

Lalu, Aida menarik nafas, dan hilang bersama abu. Nirmala tertegun.

Ketika senja mulai menanti dan matahari mulai padam, Nirmala jalan ke arah biliknya. Sekarang Ia mengerti, bahkan seorang kembang seroja desa antah berantah tempat Ia tinggal bisa sakit hati. Semua orang bisa sakit hati, bahkan bodohnya bisa menyakiti diri sendiri.

CINTA BISA MENYAKITI SIAPA SAJA
ukir Nirmala di pohon Ara

Monday, April 4, 2011

lagi dan lagi

Kadang ketika cinta bukan menjadi hal yang menyenangkan.

Adalah seorang perempuan bernama Aura, seorang anak yang sungguh biasa saja, namun saya tau, ada suatu hal yang membuatnya menjadi tak biasa

Tersebut seorang pejantan bernama Yusuf, yang katanya pejantan kaya raya dari negeri seberang

Mereka bertemu di suatu dermaga, sama-sama menunggu kapal impian yang akan berlabuh. Suasananya dingin, menusuk jiwa.
Dipertemukan oleh angin, menjadi suatu keunikan tersendiri. Mereka pun menjalin komunikasi. Komunikasi cinta? belum tentu.
Dua insan berbeda kepribadian, adalah dua hal yang sulit disatukkan. Itulah mereka. Tak mengerti apa yang dirasakkan sang pria, begitupun yang wanita. Pusing? apalagi saya.
Sang pria keras kepala, yang wanita juga. Sifat yang betul-betul menjadi penghalang. Tak seperti ombak yang dapat mengikis batu karang, sifat ini sulit sekali dikikis. Maka mereka melilih untuk tetap begini, berdiri dalam ketidak pastian sampai suatu saat sang lelaki berkata bahwa dia sudah berpaling. Miris, ahmasa?

Ada lagi betina bernama Gasha, seorang pemimpi kelas kakap

Lagi-lagi, ada seorang perjaka bernama Ara, seorang penjual jam. Pasti dia tipe orang tepat waktu! Ah tidak juga...

Mereka menjalin suatu komunikasi, bukan juga cinta. Dulu si betina yang memulai, sekarang si pejantan. Tapi tak selamanya si pejantan itu ada. Kenapa? kurang tau juga


Loh mengapa ceritanya selesai??
Saya hanya tak kuat lagi menulis kisah saya sendiri

Saturday, February 19, 2011

Karena saya adalah dagingmu, air mata tak hentinya mengalir

Cry me a river?

Saya tertegun membaca spanduk dijalan. Penolakkan pembangunan rumah ibdaha. Sudah setahun lebih saya tertegun didepan spanduk tersebut.
Hati saya teriris
Pilu

Lain lagi ketika saya menyalakkan televisi. Penyerangan kelompok agama yang katanya kafir. Lagi-lago, sudah lebih dari seminggu berita ini ditayangkan di telivisi, sampai bosan, sampai kesal. Ada apa ini?

Saya mungkin bukanlah orang yang bijaksana dan perdulian. Hari-hari saya pun begitu saja saya lalui dengan aktivitas segudang. Saya tak pernah perduli kegiatan sekitar, yang penting kegiatan saya saja. Kegiatan orang lain? itu urusan belakangan. Egois? mungkin saja. Terserahlah.
Saya tinggal di ibukota yang sama egoisnya dengan saya. Seakan-akan, kami mempunyai dunia masing-masing yang tak mungkin diganggu orang lain. Ibukota yang kekejamannya melenihi novel R.L Stein yang bercerita tentang hantu-hantu jahat pemakan manusia, monster-monster menakutkan yang bermuka dua. Di Jakarta semuanya itu real, terlihat nyata. Tak cuma kota yang egois, kota Jakarta adalah kota yang "memungkinkan" semuanya menjadi kenyataan. Like a dream comes true? mungkin saja. Namun dalam konteks yang berbeda. Konteks yang mengarah kepada kebencian, kepalsuan, kelihaian hantu-hantu merayu.

Tak perlu malam untuk melihat mereka. Bahkan seseorang memakai setelan jas rapih pun bisa menjadi salah satunya. Mereka itu monster, semuanya ingin diraih. Mukanya bermuka dua, cocok menjadi tokoh monster di kartun D.C. Cocok sekali. Senyum mereka yang mnyeringai, tampaknya sama seperti manusia serigala yang ada di werewolf. Tampak sangat nyata. Memang nyata, atau saya adalah bagian cerita mereka?
Sebuah kitab ditangan, setelan suci itu dipakainya, gagah sekali. Masuk rumah agama masing-masing. Namun hasilnya? katanya demi agama, namun saling mencemooh. Memakai kompor untuk saling menaikkan emosi. Yang satu bilang anjing, yang sana bilang tai. Tadinya, dijanjikan kerukunan agama. Tapi mana? sekarang sepertinya lebih baik menjadi seorang yang atheis, seorang yang tidak punya agama, karena mereka yang tidak punya agama adalah seseorang yang tidak pernah berantem soal agama. Tak ada gunanya. Memang, fanatisme mengalahkan semuanya.

Saya memang tak perduli, namun sampai kapan kita teridam termangu meratapi nasib ibukota ini?. Katanya saya dagingmu kawan, kalau saudara, mengapa kalian membut satu sama lain menagis tak henti?. A-N-E-H

Terlalu frontal? kadang kita sudah terlalu munafik karena tetap tersenyum ditengah kenajisan ini,

Thursday, December 30, 2010

Skenario 4 Dunia Nirmala: Karena Nila Setitik, Tong Kosong Di Balik Batu

Skenario 4 Dunia Nirmala

Esok hari adalah hari baru
Ya, saya tau sayang
Pikir Nirmala.

Yang benar, esok adalah tahun, awal tahun.
Adalah seorang pujangga mendatangi kampung pesisir pinggiran tempat Nirmala berlibur. Ia datang dengan cara aneh. Tidak pernah dijemput, tak pernah diantar layaknya jelangkung?. Intinya, dia adalah orang yang aneh
Setelan safari dengan topi jerami, sungguh necis. Membawa tas besar seperti nyonya dan tuan gedongan yang baru datang dari jauh atau seperti muda-mudi tahun 1932 menonton film di Bioscoop Metropool.
Indah dipandang wajahnya, sungguh beribawa. Umurnya sudah setengah abad, namun entah ramuan dari dukun siapa yang membuatnya menjadi lebih mudah 20 tahun dari umur aslinya. Kata orang, setiap kampung yang Ia datangi, pasti ada saja yang kepincut dan akhirnya menikah dengannya. Nanti, setahun dia tinggal di kampung situ dan berhasil buntingin perawan, baru dia pergi. Tragis
Anak-anak beriringan menyambut dia. Para gadis pun turut datang, ingin melihat rupanya. Tak terkecuali Nirmala, remaja haus cinta. Dan memang benar, perawakannya sungguh gagah dengan safari kebesarannya, topi jerami, dan tas besar. Nirmala tak tertarik, dia lebih memilih diam tak ikut celoteh sampai Ia duduk dan bercerita. Pria itu segera mencari gundukkan batu. membuka tas-nya lalu memulai ceritanya dengan salam.

"Salam sejahtera bagi kita semua yang berbahagia atas keadaan alam kita yang selalu mendukung"
....
"Kali ini saya akan bercerita tentang........"
*semua tegang*
"Karena nila setitik, tong kosong dibalik batu"
"...... Pada suatu ketika, hiduplah katak yang senang meminum susu. Ia mempunya teman. Gangster kelas bawal katanya, namanya udang. Mereka berteman baik dan tinggal disebuah tong kosong disebuah gundukkan dibalik batu. Dua-duanya hidup dengan buaian palsu dan kebohongan yang semakin hari semakin liar bermain di kehidupan mereka. Jelek.
Lalu, pada suatu ketika sang udang berkata bahwa dia akan melancong ke negara baru. Bodohnya, sang katak percaya saja. Padahal, sang udang hanya numpang kencing ke kampung sebelah, bayar hutang sama tuan tanah.Dasar udang! pada dasarnya memang otak udang, kotor dan tak ada isinya. Tapi, bodoh juga si katak mau percaya apa kata-kata udang. Dia malah meminta buah tangan berupa segelas susu.
Lalu pergilah sang udang ke kampung sebelah, bayar hutang, numpang kencing. Sang katak menunggu susunya. UDang tak kunjung datang, ada apa ini, semua tak tau. Sampai pada tahun baru tiba, udang tang kunjung ada. Semakin laparlah sang katak setahun tak makan. Malam pergantian tahun, tak kuat lagi katak menahan, matilah dia. Tak taunya, arwahnya masih gentayangan, pergilah dia berkelana cari si udang. Terbukalah kedok si udang. Dia di kampung sebelah, jadi kacung gangster Ayam(katanya sih paling ditakuti). Mukanya kuyu, seperti tak makan satu abad dan sudah siap jadi udang bakar. Hantu katak terbang kearahnya dan memanggilnya. Sang udang pun ketakutan, karena suara itu tak berwujud. Sampai hantu katak pun menjelaskan padanya temasuk maksud dia mendatanginya, yaitu balas dendam. Udang pun minta ampun, katanya dia salah meninggalkan nila setitik jadinya semuanya berantakkan gara-gara tong kosong di balik undakkan batu itu..... Belum selesai semuanya, sang udang ikut meninggal. Namun tak bertemu katak"

selesai......

Laksmi, salah satu gadis yang sedari tadi duduk manis telah terpilih jadi gadis sang pendongeng. Itu semua berarti, ceritanya sudah berakhir.

Cerita macam apa itu kawan! mungkin semua berfikir. Namun tak banyak orang yang bisa menangkap cerita ini.
Bagi Nirmala, tak pentinglah untuk berputar terlalu, dari awal juga sudah terlihat kalau tak baik hidup dalam sebuah kebohongan yang kosong dan nantinya akan ada maksud di akhirnya.

Jujur adalah kunci kehidupan, dan itulah yang diperlukan.

Nirmala tersenyum, menatap langit, siap menyambut tahun baru tanpa kebohongan. Bukan sok suci, hanya tak mau seperti udang.

Read this first!

pictures edit by me via photoscape, photobucket, and ACSDE Photoshop CS.2

feel fre for email-ing me:

STACIACUTE_94@YAHOO.COM

Another blog made by my-fashion-toughts

who am i

who am i
i just do frontal. art is my middle name

find me here !

chit-chatto